Laman

Sabtu, 07 September 2013

Catatan Perjalanan Pendakian Gunung Merapi


Menembus Batas di Gunung Merapi
2998 mdpl
Via Selo, Boyolali, Jawa Tengah

Oleh : Irkham Zamzuri

Untukmu yang telah memberikan iman
Untukmu yang telah mendidik moral
Untukmu yang telah mengorbitkan kepercayaan
Untukmu yang selalu menyayangi sang titipan
Untukmu yang selalu ada untukku
Untukmu yang mengerti keadaanku
Untukmu ... wahai engkau nafas kehidupan
Terima kasih Tuhan, Keluarga, Sahabat, dan Kawan
tidak sekedar bermimpi tapi kami punya impian

Sudah 2 hari ini handphone saya non aktifkan semenjak saya harus menemani Laszlo dan Philip, kawan saya dari Belanda dan Filipina untuk melakukan pendakian di gunung merapi dan merbabu. Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 ketika terdengar sebuah nada dering berbunyi sebagai pertanda bahwa ada pesan masuk beberapa menit setelah handphone saya aktifkan, benar saja beberapa pesan sudah mengantri masuk silih berganti menunggu untuk dibaca. Sebuah pesan yang saya rasa tidak biasa datang, “Pak, masuk kuliah kapan”? berniat untuk segera membalas pesan tadi tiba-tiba jaringan sinyal di ponsel saya hilang, maklumlah posisi saya masih berada di basecamp pendakian gunung merbabu. Sambil melihat-lihat handphone yang sedari tadi saya angkat keatas untuk mencari jaringan sinyal, terdengar suara yang sepertinya mengarah ke saya.

Rabu, 04 September 2013

Greweng Beach (The Hidden Paradise)


no footprints
Gunung Kidul adalah salah satu kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terkenal dengan eksotisme wisata alamnya, sebut saja pegunungan kapur, gua, ataupun pantai. Daerah yang sebenarnya relatif gersang karena terletak di daerah karst (kapur), justru menyimpan berbagai tempat luar biasa yang menjadi surga para petualang. Dari tempat wisata yang sudah dibuka untuk umum ataupun tempat-tempat yang masih tersembunyi, dan dibutuhkan perjuangan khusus untuk mencapainya. Pantai Greweng merupakan satu dari sekian banyak tempat yang wajib dikunjungi oleh traveler yang menyukai jelajah alam, ketenangan, dan tentunya keindahan. Karena alasan-alasan itulah saya beserta kedelapan teman saya akhirnya tertarik untuk mengunjungi tempat itu. Berencana untuk berkemah semalam di pantai greweng, pantai tersembunyi dengan pasir putih yang mengagumkan. 

Kenalan dulu ya sama teman-teman saya yang sehobi dalam hal jalan-jalan alam. Adam adalah teman baik saya sedari SMA, berbagai kegiatan ekstra ataupun intra bersama selama di SMA menjadikan komunikasi kami semakin baik karena seringnya bersama dalam organisasi, sekarang Adam sedang menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung jurusan Metrologi dan Instrumentasi. Waktu itu sedang diadakan seleksi untuk calon pengurus osis baru di SMA untuk kelas X, dan disinilah pertama kali saya mengenal Fia. Adik kelas dan juga teman di organisasi OSIS SMA, FYI dia selalu diantar jemput oleh ayahnya selama SMA, anak papi J hahaha ... sekarang melanjutkan studi di jurusan komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Suci,  dia adalah seorang penari yang sangat gemulai ketika saya mengenalnya. Berambut panjang sampai ke pinggang, dan selalu berdandan ketika sedang pertunjukan. Bersuara emas, karena menjadi  dirigen dalam ekstra Paduan Suara SMA. Melanjutkan studi di jurusan Pendidikan Biologi Universitas Negeri Yogyakarta.Yasinta, dia pernah dilaporkan ke Team SAR ketika mendaki Gunung Merbabu malam tahun baru 2013. Sekarang melanjutkan studi di jurusan Rekam Medik Universitas Gadjah Mada. Saya dan keempat teman saya ini tergabung dalam organisasi alumni pengurus Dewan Ambalan SMA N 1 Karanganom Klaten, yaitu IKEBANA. 

from the left side : Sofan, Yudha, Saya, Adam, Nanda, Suci, Fia, Zulfa, & Yassinta.




Rabu, 05 Juni 2013

Dewa dan Kerbau Pendidikan


“Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau.” (Soe Hok Gie)

        Sebuah kutipan argumentasi dari catatan seorang demonstran (era 60an) yang terkenal dengan idealisme nya yang kritis, kritis melawan kemunafikan, kritis melawan ketidakadilan, dan kritis melawan penindasan pada masanya. Soe Hok Gie, mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia, salah seorang sosok yang menginspirasi saya, seorang kakak yang tak pernah bertemu secara nyata, tapi selalu bertemu dalam catatan tak bernyawa.

       Bukan tanpa alasan Soe Hok Gie berbicara demikian waktu itu ia merasa ada sesuatu yang salah terhadap gurunya. Kala itu banyak guru yang merasa paling jago, merasa guru paling pintar. Sama halnya seperti Gie, saya menulis catatan  ini bukan tanpa alasan tulisan ini adalah fase klimaks kegelisahan saya melihat kondusifitas sistem pendidikan di sekitar kita. Betapa panasnya telinga saya ketika mendengar informasi, masih banyak oknum tenaga pengajar dari mulai jenjang dasar, menengah, bahkan perguruan tinggi, yang merasa dirinya ‘dewa’, dan merasa anak didik nya (siswa) adalah ‘kerbau’. Di era pendidikan modern dewasa ini guru tidak sebatas sebagai tenaga pengajar tetapi harus menjadikan dirinya pada tingkatan pendidik. Bukan menjadi narasumber pokok pada kegiatan belajar mengajar, hanya sebatas pada tingkatan fasilitator. Guru harus bisa mendampingi anak didik nya dengan sepenuh hati, setulus kasih, bagai mendidik putra-putri mereka. Mendampingi mereka, mendidik dalam dua sisi antara mentalitas keilmuan dan keimanan. Sehingga tujuan sejati dari profesi ini terpenuhi.

Gie's Poetry

        Hi, guys ... how are you today? Now, I would like to collect Gie's poetry. I got the idea after finished for watching the film of Gie or knows as Catatan Sang Demonstran. Do you know guys, who is Gie??? Short and simple story Gie is one of an activist in the era of 1960s, who had dream to overthrow the tyrannical rule. He studied faculty of literature at University of Indonesia. Beside an activist his hobby is mountain climbing and one of the pioneer of Mapala UI. Cause of his passion to uphold the principle many young campus activists idolized Gie as an ideal figure. The most famous quote of Gie "exiled better than succumb to hypocrisy".So, its some of the poetry of Gie ... Enjoy guys, take a better seat and cup of coffee to understand the meaning. Who knows inspiring you ... (He did, student, writer, and activist, Gie stood up against the corrupt government in Indonesia in the 60's.




Selasa, 04 Juni 2013

Antara Berkegiatan dan Pelestarian Alam

        Alam dan lingkungannya senantiasa akrab dengan kita, udara, air, tanah, tumbuhan, hewan, gunung dapat kita rasakan keberadaannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan kini semakin banyak orang yang ingin tahu lebih jauh tentang alam dan isinya, mereka ungkapkan melalui kegiatan di alam terbuka. Berkegiatan  di alam terbuka selain memberi rasa segar karena adanya hutan-hutan  di tempat-tempat  tersebut  yang terpelihara,  juga menambah pengalaman-pengalaman baru. Motivasi dari  berekreasi  di  alam  terbuka memang bermacam-macam, manusia mempunyai kebutuhan psikologis seperti kebutuhan akan pengalaman baru, kebutuhan untuk berprestasi, dan kebutuhan untuk diakui oleh masyarakat dan bangsanya, berkemah dan mendaki gunung adalah salah satu sarana untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu. Lebih jauh lagi mengembangkan dirinya dan kegiatannya untuk mencoba menyelidiki dan mempelajari kehidupan yang ada  di alam,  seperti tumbuhan dan  satwa serta gejala alam (air terjun, gua, danau) yang ada di alam terbuka. Alam yang dapat memberikan nilai dan  arti bukan hanya bagi kelompoknya sendiri  tapi  juga  kebaikan  bersama,  ini  sangat  diharapkan  dalam  rangka memelihara lingkungan hidup.

Salah satu masalah yang akan timbul pada saat kita melakukan kegiatan di alam terbuka khususnya berkemah, adalah rusaknya lingkungan hidup tempat kita melakukan aktivitas, orang yang tidak mengerti dan memahami tata cara beraktivitas di alam terbuka berpotensi besar merusak lingkungan hidup yang tak dapat diperbaiki.

Team Leader Handal Pendakian



          Apa yang anda pikirkan ketika mendengar kata Gunung? Banyak sekali kemungkinan jawaban yang muncul untuk menjawab pertanyaan tersebut. Ada yang bilang gunung adalah tempat untuk pulang, gunung adalah rumah atau bahkan gunung adalah tempat abadi para dewa. Bagi mereka yang mengutarakan jawaban semacam itu bisa dipastikan mempunyai hobi yang tidak jauh dari kegiatan kepecinta alaman, sebut saja mendaki gunung. Gunung bagai sebuah candu bagi mereka yang secara tulus mencinta akan keindahan karya Sang Pencipta. Tapi, apakah proses mendaki gunung semudah kala kita merenungkan makna agung dari gunung? Diperlukan persiapan mental yang matang untuk bisa mendaki gunung, terlebih lagi jika anda adalah seorang Team Leader. Hal dasar yang harus anda miliki dan yakini adalah makna Leadership. Yang pada intinya adalah jiwa untuk bisa mempengaruhi orang lain. Mempengaruhi dalam artian sikap dan tindakan anda ketika menjadi seorang Team Leader dapat dipercaya oleh teman-teman anda. Ini adalah beberapa hal yang bisa anda lakukan sebagai seorang Team Leader ketika mendaki gunung.


Sabtu, 18 Mei 2013

Kejanggalan Film 5 Cm.


     Masih sangat jelas menempel di kepala saya, 30 Oktober 2012 bertempat di UMY Yogyakarta. Saya beserta satu teman anggavisca.blogspot.com menghadiri sebuah roadshow dalam rangka promosi Film 5 Cm oleh Ram soraya. Saya memang salah satu penggemar fanatik dari novel best seller karya Donny Dhirgantoro itu jauh sebelum novel tersebut gencar diberitakan akan dibuat sebuah film. Bahkan, ketika dahulu saya baru pertama kali membeli novel ini di salah satu toko buku yang ada di Jogja saya baca hanya dalam kurun waktu kurang dari 12 jam. Harus saya akui tidak ada celah dari novel yang telah dicetak lebih dari 25 kali sejak pertama kali terbit tahun 2005 silam. Menarik, cerdas, humoris serta menantang itulah beberapa kriteria untuk menggambarkan bagaimana seorang Donny menggoreskan tinta emas dalam karyanya. 



      Kecintaan saya terhadap novel ini bertambah besar manakala pada tanggal 30 Oktober 2012 yang lalu ketika saya hadir dalam roadshow film 5 Cm, saya mendapat sebuah doorprize berupa sebuah kaos 5cm langsung ditunjuk dan diberikan oleh Pevita Pearce pemeran Dinda dalam film. Sedangkan teman saya berhasil mendapat sebuah novel 5 Cm cetakan terakhir langsung dari Pevita Pearce lengkap dengan tanda tangan dan lebih beruntung lagi teman saya langsung ditarik oleh Pevita Pearce dari tempat duduknya. Sejak saat itu, saya menjadi begitu bangga akan 5 Cm. Sebuah kaos dan novel yang dapat kita banggakan kepada kawan-kawan sembari menunggu film 5 Cm tayang perdana pada 12 12 12.

Jumat, 17 Mei 2013

Berprinsip Dari Filosofi Pohon Oak


google.com
  Terpaan angin yang tersalurkan dari daunnya memberikan kesegaran pelepas dahaga di tengah panasya sinar sang surya. Rindang pohonnya memberikan perlindungan yang nyaman bagi semua yang bersandar pada kokohnya. Batangnya yang besar seolah menjadi pertanda bahwa akulah penyejuk dan pelindungmu. Siapa yang tidak kenal pohon oak, sebuah pohon besar yang menjuntai tinggi dan tumbuh melebar. Suasana yang teduh, segar serta nyaman langsung mewakilkan setiap kali ada pendiskripsian tentang pohon oak. Pohon yang berani melawan arus angin ini memang mengandung bermacam makna, teguh pendirian salah satunya. Bagaimana tidak, akar yang kokoh serta batang besar sangatlah cukup untuk menahan terpaan angin yang membingungkan. Semisal pohon oak kita ibaratkan sebuah jiwa dan angin adalah arus pengaruh kehidupan. Pastilah pohon oak (jiwa) dengan dasaran prinsip atau pendirian yang begitu kokoh tidak akan pernah mudah tergoyahkan oleh hempasan kiri kanan arus kehidupan.

Catatan Perjalanan Pendakian Semeru


It’s my dream, what’s yours ???
(oh .......... Indahnya Mahameru)

oleh : Irkham Zamzuri 
Desa Tumpang Rumah Pak Rusno 

Untukmu yang telah memberikan iman
Untukmu yang telah membimbing dan memberikan moral
Untukmu yang selalu menyayangi sang titipan
Untukmu yang telah mempercayai apa yang telah dan akan dilakukan
Untukmu yang selalu ada untukku
Untukmu yang selalu mengerti keadaanku
Untukmu ... wahai engkau nafas kehidupan !!!
Terima kasih untuk Tuhan, Keluarga (terkhusus Bunda), Sahabat, dan Kawan !!! Pencapaian ini untuk membuktikan tidak sekadar bermimpi tapi aku punya impian !!!

Kupersembahkan sebuah pencapaian mimpi melalui goresan tinta emas untuk membalaskan semua kebaikan yang telah kalian berikan. Sebuah langkah besar telah aku catatkan dalam sejarah perjalanan hidup untuk memberikan warna baru dalam menghadapi fanamu. Hanya celetukan biasa yang akhirnya menjadi sebuah pencapaian luar biasa. Ya ... warung tongseng, terminal tawangmangu ketika akan mendaki Gunung Lawu bersama Prof. Zaid (Dosen IIUM Malaysia), celetukan ide terlontar dari mulut salah seorang kawan yang mulai mencintai indahnya sebuah panorama sunrise di puncak idaman. Semeru ... Semeru ... Semeru ... hanya semacam itulah kiranya celetukan yang samar-samar terdengar di suasana terminal yang memang pada saat itu sedang hingar-bingar antar sopir dan para penumpang yang sedang melakukan sebuah rutinitas perputaran uang dengan hubungan mutualisme yang mereka lakukan. Aku sendiri yang mendengar dan kebetulan punya mimpi spontan merespon dengan riangnya. Bahasa kerennya TEGAS dan LUGAS, Ok... Cocok... Kapan... sebuah respon yang menunjukan betapa minatnya untuk menemui sebuah mimpi yang selama ini sudah diidam-idamkan. Sang pemberi ide tak kalah sigap untuk membalas respon, dengan segera dia berdiri melihat sebuah kalender ... hmm ... hmm ... hmm ... kapan yo ??? beberapa detik menunggu akhirnya dua kata terucap dari mulutnya, “5 juli”. 5 orang saling bertatap muka memikirkan adakah kegiatan kampus di tanggal itu, sejenak menunggu dan ............. DEAL !!!
            Hanya celetukan di warung tongseng, terminal tawangmangu inilah yang akhirnya menjadi tonggak sejarah dalam sebuah titik awal keberhasilan untuk masa depan. Dengan berencana sebisa kita, tetap Tuhan yang punya asa untuk menentukan apa yang pantas untuk kita !!! Keep Dreaming for your life in the future !!! and MAHAMERU is part of my dream !!! MAHAMERU I’m coming !!! MAHAMERU I’ll stand in your peak !!!
            Dan akhirnya inilah goresan tinta dalam mengerjar impian di Puncak Tertinggi Pulau Jawa, Gunung Semeru dengan Puncak Mahameru 3.676 mdpl, Lumajang, Jawa Timur, Indonesia. 5 – 9 Juli 2012 !!!
(di atas truk) Perjalanan menuju Desa Ranupane

Preparation + keberangkatan dari Terminal Giwangan Yogyakarta

Sebelum kita benar-benar mengeksekusi apa yang menjadi impian kita, salah satu hal dasar yang harus mendasari impian kita adalah persiapan. Persiapan sangat dibutuhkan untuk meng set up apa yang sekiranya harus dilakukan untuk modal menjalankan impian kita, supaya lancar dari berangkat hingga pulang sampai tujuan. Jauh-jauh hari sebelum hari H gambaran setengah sempurna tentang impian kita mulai tersosialisasikan ke teman-teman yang punya hobby sama untuk menjemput impian di Puncak Mahameru. Rencana awal hanya 8 orang yang akan fix berangkat ke semeru, namun menjelang hari H ada rombongan lain yang masih satu fakultas dan ternyata mereka berminat gabung dengan kita. 8 orang di tambah 6 dari kelompok lain, akhirnya kita menyatu menjadi sebuah team untuk bersama-sama menjemput impian yang sama di Puncak Mahameru. Dengan 14 orang di team kita mulai mematangkan apa yang sekiranya perlu kita bahas untuk mensukseskan impian kita di Mahameru, mulai dari perlengkapan pribadi, perlengkapan kelompok, budgeting untuk transport + akomodasi (makan dan uang aman), sampai schedule dan selayang pandang tentang medan pendakian. Dan inilah beberapa uraian tentang persiapan that have we done :
1.      Perlengkapan pribadi
v  Carrier
v  Daypack
v  Matras
v  Sleeping Bag (SB)
v  Sepatu hiking
v  Sandal gunung (untuk back up)
v  Kaos kaki tebal (min 2 pasang)
v  Gaiter
v  Headlamp
v  Balaclava/ slayer
v  Goggles (kacamata hitam) + kacamata bening
v  Jacket (windstopper atau waterproof)
v  Raincoat
v  P3k lengkap pribadi
v  Sarung tangan
v  Pakaian ganti, (min 3 pasang)
v  Minuman 3 lt
v  Makanan berat (sesuai schedule 2, 3 atau 4 hari pendakian pp beras dan sayur)
v  Snack (gula merah, coklat atau yang manis2 untuk doping, roti)
v  Makanan dan minuman siap saji (bubur sun, super bubur, mie, sarden, jahewangi, kopi)
v  Peralatan mandi
v  Kompor lapangan + parafin (untuk back up)
v  Toolkit
v  Kamera 
v  Surat keterangan sehat (fc 2x)
v  ID (KTP/KTM/Kartu Pelajar) (fc 2x)

2.      Perlengkapan kelompok
v  Dome
v  Kompor portable
v  Nesting/ trangea
v  Materai 6.000
v  Trash bag/ Plastik besar untuk tempat sampah
3.      Budgeting
a.       Transport
·         Terminal Giwangan Yogyakarta – Terminal Bungurasih Surabaya (bus ac tarif biasa (ekonomi) = @ Rp 34.000,00 (x 2 pp)
·         Terminal Bungurasih Surabaya – Terminal Arjosari Malang (bus ac tarif biasa (ekonomi) = @ Rp 10.000,00 (x 2 pp)
·         Terminal Arjosari Malang – Kecamatan Tumpang malang (sewa angkot) = @ Rp 10.000,00 (x 2 pp)
·         Kacamatan Tumpang Malang – Desa Ranupani (sewa truck atau hardtop) = @ Rp 30.000,00 (x 2 pp)
·         Parkir sepeda motor di Terminal Giwangan Rp 13.000,00 (6 hari)
b.      Akomodasi
·         Makan siang di Terminal Arjosari Rp 10.000,00
·         Makan sore di Kecamatan Tumpang Rp 10.000,00
·         Makan malam di Desa Ranupani  Rp 14.000,00
·         Makan pagi di Desa Ranupani sebelum pendakian Rp 14.000,00
·         Makan siang di Desa Ranupani setelah pendakian Rp 10.000,00
·         Makan malam di Terminal Bungurasih Surabaya Rp 10.000,00
c.       Uang aman
·         Pembelian kenang-kenangan di Desa Ranupani setelah Pendakian :
Ø  Harga kaos Mahameru Product dari Ki Rangan  Rp 65.000,00
Ø  Harga emblem besar Rp 10.000,00 emblem kecil Rp 5.000,00
Ø  Harga PIN Rp 5.000,00
·         Uang sebagai pegangan Rp 100.000,00 – Rp 300.000, 00
4.      Schedule
v  Kamis, 5 Juli 2012
·         00.30 – 09.00 = T. Surabaya
·         09.00 – 11.00 = T. Malang
·         11.00 – 13.00 = ishoma
·         13.00 – 14.00 = Kecamatan Tumpang
·         14.00 – 16.00 = ishoma + checking
·         16.00 – 18.00 = Desa Ranupani
·         18.00 - ... = suasana Ranupani
v  Jum’at, 6 Juli 2012
·         09.00 – 15.00 = ranukumbolo
v  Sabtu, 7 Juli 2012
·         10.00 – 15.30 = kalimati
·         15.30 – 22.30 = ishoma
·         22.30 – 24.00 = preparation to summit attack
v  Minggu, 8 Juli 2012
·         00.00 – 05.00 = summit !!!
·         05.00 – 08.00 = take a photos
·         08.00 – 10 .00 = kalimati
·         10.00 – 15.00 = break
·         15.00 – 17.00 = ranukumbolo
v  Senin, 9 juli 2012
·         07.00 – 10.00 = desa ranupani
·         12.30 – 14.30 = kecamatan tumpang
·         16.30 - ... = back to Yogyakarta
v  Selasa, 10 Juli 2012
·         05.00 - ... = sampai di Terminal Giwangan Yogyakarta
5.      Selayang pandang
Seorang bijak berkata, “kalau kita mau datang ke suatu tempat baru, kita harus tahu informasi dari tempat baru itu agar kita bisa lebih mencintai budayanya”. Tapi bukan culture atau budaya yang akan dibahas disini karena tujuan kita pergi ke Gunung Semeru bukan untuk berwisata di kota budaya semacam Solo atau Jogja. Maka dari itu supaya sesuai dengan tujuan kita pergi ke Gunung Semeru, seluk beluk informasi yang ada tentang Gunung Semeru harus kita kuasa dengan baik. Mulai dari cara menjangkaunya dari luar kota, transportnya bagaimana, keadaan medannya seperti apa, bagaimana regulasinya, dsb. Saya kira dengan sedikit menguasa seluk beluk daerah baru yang akan menjadi tujuan kita, rencana perjalananpun akan berjalan lebih mantap. Inilah gambaran singkat Gunung Semeru :
Gunung Semeru atau Sumeru adalah gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Kawah di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloka. Semeru mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukithutan Dipterokarp Atashutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung. Posisi gunung ini terletak di antara wilayah administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan posisi geografis antara 8°06' LS dan 120°55' BT. Pada tahun 1913 dan 1946 Kawah Jonggring Saloka memiliki kubah dengan ketinggian 3.744,8 M hingga akhir November 1973. Disebelah selatan, kubah ini mendobrak tepi kawah menyebabkan aliran lava mengarah ke sisi selatan meliputi daerah Pronojiwo dan Candipuro di Lumajang. Gunung ini masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Taman Nasional ini terdiri dari pegunungan dan lembah seluas 50.273,3 Hektar. Terdapat beberapa gunung di dalam Kaldera Gn.Tengger antara lain; Gn.Bromo (2.392m) Gn. Batok (2.470m) Gn.Kursi (2,581m) Gn.Watangan (2.662m) Gn.Widodaren (2.650m). Terdapat empat buah danau (ranu): Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo, Ranu Darungan. Flora yang berada di Wilayah Gunung Semeru beraneka ragam jenisnya tetapi banyak didominir oleh pohon cemara, akasia, pinus, dan jenis Jamuju. Sedangkan untuk tumbuhan bawah didominir oleh Kirinyuhalang-alangtembelekanharendong dan Edelwiss putih, Edelwiss yang banyak terdapat di lereng-lereng menuju Puncak Semeru. Dan juga ditemukan beberapa jenis anggrek endemik yang hidup di sekitar Semeru Selatan. Banyak fauna yang menghuni gunung Semeru antara lain : Macan KumbangBudengLuwakKijangKancil, dll. Sedangkan di Ranu Kumbolo terdapat Belibis yang masih hidup liar. (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Semeru)

Perjalanan ke Malang
Setelah paham tentang bagaimana persiapan dan ringkasan singkat dari penjemputan mimpi di Gunung Semeru, tiba saatnya untuk mengenalkan siapa personil yang akan berangkat ke medan pendakian Gunung Semeru. Alam (FH UII, sang fotografer), Angga (FH UII), Apep (FE UII), Boni (FH UII), Fahmi (FH UII), Faza (FE UII), Irkham (FH UII, Leader), Muhsin (FH UII, chef), Munir, Okky (SMA, Bengkulu, saudara Redho), Owy (FH UII), Randy (FH UII), Redho (FH UII), Yoga (FH UII). Sebelum kita lanjutkan, satu yang perlu diingat kita berangkat ke Gunung Semeru atas nama pribadi atau independent bukan atas nama kampus !!! Right !!! (supaya tidak menimbulkan kesalahpahaman, harap pemakluman)
Waktu itu, Kamis, 5 Juli 2012 jam 00.30 WIB kita berangkat dari Terminal Giwangan Yogyakarta dengan menggunakan bus malam ac tarif biasa (ekonomi) kita sengaja mencari bus yang agak murah tapi tidak murahan untuk menghemat budget kita selama proses perjalanan dan nanti pendakian. Tepat pukul 00.30 kala itu bus berangkat menuju Surabaya, mungkin banyak yang bertanya-tanya kenapa mau ke Malang dari Jogja harus transit di Surabaya, emang gak muter-muter dab ...??? sabar ... sabar ... woles ,,, sebenarnya ada beberapa alternatif menuju Malang dari kota Yogya, alternatif pertama inilah pilihan kita tapi memang waktu perjalan agak sedikit membengkak karena hitungannya kita memang harus sedikit muter-muter terlebih dahulu. Alternatif kedua adalah kita tetap berangkat dari Terminal Giwangan Yogyakarta dengan bus ac tarif biasa tapi nanti kita turun ki kota Jombang, kemudian mencari bus Puspa Indah yang ke Terminal Randungsari, Batu Malang dengan cara ini kita bisa menghemat waktu 3-4 jam untuk mencapai Malang jika dibandingkan dengan alternatif pertama tapi sayangnya trayek terakhir bus Puspa Indah dari Jombang yang menuju ke Terminal Randungsari adalah jam 17.00 WIB maka dari itu terserah kita bagaimana mau mengatur waktu perjalan sesuai dengan minat dan kebutuhan paling nyaman yang penting dibuat happy saja. Alternatif ketiga dan inilah yang paling nyaman dan tidak perlu repot, dari Terminal Giwangan Yogyakarta kita bisa menggunakan bus patas yang langsung menuju Malang tapi ya memang setiap yang baik pasti ada kekurangan, setiap yang kurang ada kelebihan pastilah kalau kita menggunakan patas langsung tolak ke Malang tanpa stop-stop di tengah jalan budget selama perjalanan harus kembali dipertimbangkan. Nah ... ada tiga alternatif untuk mencapai Malang dengan bus, kalau punya budget yang sedikit lebih dan ingin mencari yang nyaman optional ketiga bisa dieksekusi, namun bila budget sedikit tipis atau pas-pasan tidak perlu khawatir masih ada optional pertama dan kedua untuk melanjutkan impian menjemput Mahameru.
Sekitaran jam 09.30 kita baru mencapai kota Surabaya yaitu di Terminal Bungurasih, sebuah perjalanan yang sebenarnya diluar kuasa kita. Rencana kita adalah perjalanan dengan optional kedua namun karena ada sedikit permainan lidah dari agen bus yang kita tumpangi, seolah optional kedua adalah pilihan mustahil yang tak mungkin di ambil. Perjalanan ke Surabaya inipun memakan waktu yang sungguh sangat lama menurut saya, entah memang ini sudah wajarnya atau memang sopirnya yang kurang lincah mencari celah di tengah dan pinggir liukan jalan, hanya sopir yang tahu karena selama perjalanan dari Jogja ke Malang mata saya selalu terpejam menikmati mimpi ditengah perjalanan. Tanpa membuang banyak waktu di Terminal Bungurasih Surabaya, kita pun segera melanjutkan perjalanan menuju Malang karena siangnya sudah mulai ganas menyerang. Dengan cara yang sama, bus ac tarif biasa murah tapi bukan murahan akhirnya kita bisa melanjutkan perjalanan menuju kota Malang, singkat kata karena selama 2 jam kita tidak mendapat tempat duduk yang nyaman di dalam bus kita sampe di Terminal Arjosari Malang sekitaran jam 11.30. Mual Pusing Capek atau MPC adalah 3 hal yang sudah menjadi teman selama perjalanan dan hal itu tidak pernah bisa saya hilangkan dari rangkaian perjalanan menuju Malang. Sembari istirahat di Terminal Arjosari jeruk panas pun menjadi pembuka untuk menghilangkan Mual Pusing dan Capek setelah perjalanan panjang dan sebutir promag pun tertelan di lambung untuk penetral keadaan yang semakin tak nyaman. Lagi enak-enaknya duduk istirahat calo angkot pun mulai berdatangan tanpa kenalan seolah kita semuapun sudah menjadi seoarang teman dalam balutan perputaran uang terminal. Rp 10.000,00 adalah harga yang deal untuk mengantarkan kita ke starting point penjemputan impian di Mahameru, kecamatan Tumpang. Namun sebelum kita melanjutkan petualangan ke daerah Tumpang rutinitas bandung dua padatpun (makan) harus segera di kondisikan mengingat tenaga yang sudah mulai berkurang dan melemah. Semangkuk bakso panas dengan kuah pedas menjadi penengah keadaan memanas di dalam lambung yang sedari dinihari belum terisi ulang. Setelah dikira cukup untuk beristirahat, titik selanjutnya adalah Kecamatan Tumpang dan angkot yang sedari tadi sudah menghadang mulai menggiring kita menuju tempat duduknya dengan suasana panas mengganas. Satu hal yang membuat saya takjub, heran dan tak habis pikir adalah 14 carrier yang kami bawa diletakkan diatas angkot tanpa seutas talipun mengikat mereka. Berkecamuk dengan satu pertanyaan sampai akhir perjalanan, bagaimana bisa barang bawaan kami yang menjadi calon nyawa kami nanti aman tanpa seutas tali di atas atap angkot yang kami tumpangi. Sempat berandai-andai dengan keadaan kalau jatuh bagaimana kita kan tidak tahu, kalau nanti menimpa pengguna jalan dibelakang kami gimana, hal-hal aneh itulah yang selalu terbayang jika mengingat itu keadaan. Sopir dan kenek yang ahli , atau aku yang sok kagum dengan hal baru ??? J
Sejam perjalanan kitapun sampai di Kecamatan Tumpang, yang merupakan starting point penjemputan impian di Mahameru. Dan ... carrier kitapun aman di atap angkot tanpa jatuh, tanpa geser padahal kita tahu itu semua tanpa seutas tali. Satu kata dab ...,”incredible”. Di Tumpang sini kita sudah mempunyai tempat untuk beristirahat dan melakukan persiapan sebelum melanjutkan perjalanan ke Ranupani yang merupakan desa terakhir di lereng Gunung Semeru. Ranupani adalah sebuah danau, yang letaknya di bawah base camp pendakian Gunung Semeru dan di basecamp inilah nantinya kita melakukan registrasi untuk melengkapi admistrasi sebelum melakukan pendakian yang sesungguhnya. “Kudusan, RT 04 RW 06, Tumpang, Tumpang, Kab.Malang. Kode Pos 65156, no.52 atas nama Pak Rusno, cp (0341) 789162” di sinilah biasanya para pendaki yang sudah mempunyai channel beristirihat, bersiap-siap dan memenuhi amunisi untuk melakukan pendakian di Gunung Semeru. Tempat ini dapat ditempuh dari Terminal Arjosari Malang dengan menumpang angkot, dan langsung saja bilang kepada sopir angkotnya tempatnya Pak Rusno belakang pasar Tumpang hampir semua sopir angkot di daerah itu mengetahui dimana rumah Pak Rusno. Selain rumahnya terkadang digunakan sebagai tempat transit sementara oleh para pendaki, Pak Rusno juga merupakan anggota paguyuban sopir truck dari Tumpang ke Ranupani maka dari itu untuk yang tidak mau repot dan yang masih melakukan pendakian perdana di Gunung Semeru tempat Pak Rusno kami rekomendasikan untuk teman-teman semua yang mempunyai hobby dan impian yang sama penjemputan impian di Gunung Semeru. Dibelakang rumah Pak Rusno terdapat pasar Tumpang sangat cocok untuk pendaki yang merasa amunisi pribadi ataupun kelompoknya belum lengkap bisa dilengkapi disini mengingat harga yang miring dan bisa tawar menawar ala pedagang di pasar tradisional. Satu hal lagi yang tersedia disini, Puskesmas Tumpang yang buka selama 24 jam untuk teman-teman yang belum punya surat keterangan sehat dari dokter bisa mencari disini namun khusus untuk pelayanan pencarian surat keterangan sehat dari dokter hanya dilayani sampai jam 18.00 saja. Untuk hal ini saya lebih merekomendasikan supaya teman-teman melengkapi semua persyaratan dari rumah masing-masing.
Ba’da sholat Dzuhur dan Ashar yang saya jama’ qashar takhir sekitaran jam 16.00 kita meluncur ke desa Ranupani dengan diantar oleh Pak Rusno dengan trucknya yang sudah hafal dan paham dengan keadaan medan menuju Ranupani yang dikenal ekstrem untuk dilalui. Bersamaan dalam rombongan kami ada satu rombongan dari Jogja juga yang beranggotakan 7 orang dan satu rombongan lagi dari jakarta yang beranggotakan 4 orang. Jadi total pendaki dalam truck yang kami tumpangi dari rumahnya Pak Rusno adalah 25 Pendaki, sedikit miris juga satu truck 25 orang dengan masing-masing orang membawa carrier penuh, sesak dan berjubel itulah suasana pada saat itu. Terlebih lagi medan yang kita lalui berkelok-kelok dan kiri kanan jurang yang sangat tajam tanpa pembatas jalan. Setelah jalan aspal habis yang kita jumpai adalah jalan beton yang sudah mulai hancur dengan debu yang luar biasa pekat setelah dilalui truck dan debu setebal itu cukup membuat mata tidak bisa melihat apabila posisi kita tepat berada di belakang truck. Yang lebih ekstrem lagi saat perjalanan suasana sudah mulai gelap tanpa ada lampu penerangan di kanan kiri jurang. Jika sopir tidak mahir salah-salah kita ... ??? astagfirulloh ... sambil berdo’a diatas truck dan penuh ketegangan perjalanan terus dilanjutkan Tumpang, Gubugklakah, Ngadas, Lembah Jemplang, Bantengan dan akhirnya sampai di Ranupani setelah 2 jam perjalanan menegangkan. Di sekitaran Lembah Jemplang kita bisa melihat betapa indahnya pemandangan lembah yang begitu dalam, hijau dan menakjubkan jika tidak terhalang olah kabut ataupun awan. Lembah Jemplang adalah salah satu jalan yang bisa ditempuh menggunakan hardtop/jeep atau motor trail untuk menuju ke kawasan Gunung Bromo. Suhu udara di Ranupani sudah sangat ekstrem dan berbeda dengan suhu udara yang ada di Tumpang. Dingin sudah menyerang menusuk sampai tulang rusuk di Ranupani tapi sesuai dengan standar dasar pendakian hal pertama yang harus kita lakukan jika terjadi perbedaan suhu adalah aklimatisasi atau penyesuaian suhu, tanpa harus langsung memakai jaket atau baju yang hangat tapi berjalan-berjalan dengan baju yang menempel dan merasakan terpaan udara dingin sebagai ucapan selamat datang di Ranupani yang merupakan basecamp pertama dalam pendakian Gunung Semeru. Juli tahun ini adalah puncaknya musim kemarau di Indonesia maka dari itu dinginnya malam yang menghantam tak bisa tidak dirasakan. Terlebih 2 hari sebelum pendakian ada info yang masuk ke kami, suhu udara di Ranukumbolo sempat -20C sontak sedikit salju pun turun kala itu. Hal apapun itu tidak perlu kita khawatirkan secara berlebihan, yang paling penting adalah persiapan kita untuk kesana benar-benar matang. Insyaalloh kita pun juga akan aman !!! AMIN !!! Saatnya untuk istirahat ...

Perjuangan dimulai ...   
Dingin yang begitu terasa di seluruh raga membuat malam itu terasa sangat lama. Beralaskan matras berselimutkan SB dan beratapkan seng tetap saja dingin yang sedari petang menyerang tak segera pergi meninggalkan kita sekalian, selalu terbangun dengan keadaan setengah sadar karena memang keadaan tak begitu nyaman. Walaupun sudah di dalam basecamp yang notabene hal semacam itu sebenarnya bisa dikategorikan sebagai hal yang begitu nyaman dalam keadaan serba kekurangan, sungguh sergapan selamat datang yang luar biasa menantang untuk menyambut 3 hari kedepan. 14 orang bergumul, berdesakan, saling menempelkan badan sebagai isyarat bahwa kita semua harus saling menghangatkan untuk melawan dinginnya malam. Bila kita tidak bisa membuat tidur kita nyaman, sungguh ini adalah malam yang akan berlalu dengan panjang. Kala itu jum’at jam 02.00 mata ini terbuka, terjaga dari tidur pikiran ini pun masih sedikit resah dan belum tenang dengan keadaan. Astagfirulloh ... sholat maghrib dan isya !!! Dengan jalan gelap tanpa penerangan, ku beranikan diri ini berjalan sendiri untuk mencari cahaya terang dari Tuhan. Menuju sebuah mushola kecil di basecamp Ranupani, disertai mulut yang sedari tadi menggigil membuat nyali ini sempat ciut untuk segera sujud. Lantai di mushola pun ikut menyapa kita, nyess ... sapaan selamat malam untuk telapak kaki yang terbuka dari bungkusnya. Terlihat beberapa rombongan yang tadi sore berangkat bersama kita dari Kecamatan Tumpang, terlentang tengkurap saling bertempelan tak jauh berbeda dengan apa yang kami lakukan di basecamp. Kira-kira 10 menit telah berlalu, tanpa basa-basi dengan tenaga malam yang  tersisa segara berlari kembali di basecamp untuk melajutkan tidur malam. Suara dengkuran dari teman-teman satu rombongan yang memang kelelahan terdengar seakan saling bersautan, beriringan, berirama senada.
Jam 05.00 pun saya kembali terbangun, segera bergegas menuju tempat pemujaan di suasana yang sedang tak berpura-pura. Menolehkan pandangan kebawah membuat mata ini takjub, sekali lagi takjub dengan indahnya ciptaanNya yang tak terdua. Ranupani di suasana sebelum cahaya hanya terlihat kabut tebal yang dengan segera membumbung mengarah ke awan, seakan tak terlihat airnya yang memang tenang bagaikan daratan es batu tebal yang sedang mengembun menuju penampakan sang fajar. Setelah kewajiban selesai, pikiran ini pun mulai mencari akal untuk menghangtakan badan. Ternyata di samping kantor administrasi ada dapur di salah satu rumah warga yang mulai menyala, spontan naluri ini membawa saya ke perapian untuk mencari sebuah kenikmatan, betapa berharganya hangat ataupun panas kala itu. Berbeda dengan lingkungan normal kita, disaat kita mendapat cahaya panas yang sedang ataupun lebih mulut ini tak bisa digunakan untuk mengucap syukur nikmat atasNya justru hujatan dan cacian tak bermoral sengaja untuk diarahkan. Di dapur yang memang cukup luas dan saya pikir ini sengaja di desain untuk tujuan semacam ini, sebuah tungku dengan api kayu yang besar diletakkan di tengah sehingga kita semua bisa mengatur posisi melingkar untuk mendapatkan kenikamatan yang benar-benar nikmat kala itu. Dengan rombongan lain yang baru tiba atau pun dengan orang2 semacam kita semua jadi satu tertumpu pada sebuah tungku yang menjadi salah satu penyambung nyawa kala itu. Makin lama nampaknya tempat ini makin diminati oleh para teman seperjuangan. Nampaknya fajar mulai bersinar sebagai tanda bahwa dinginnya malam akan segera menghilang dan bergantikan siang yang ganas menantang. Beberapa rombongan lain terus berdatangan dengan beragam kalangan. Para pendaki yang kelihatannya sudah berkepala 5, bahkan ada yang belum genap satu kepala. Sungguh luar biasa peminat dari tantangan yang ditawarkan alam Semeru. Sebagian sarapan, sebagian berjemur mencari terpaan sinar, sayapun mengurusi administrasi pendakian di kantor. Melengkapi berkas-berkas yang diberikan oleh petugas di pos kantor TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru), mulai dari kondisi kesehatan sampai ID masing-masing pendaki harus benar-benar jelas, logistik, dan beberapa perkap tambahan. Sambil mengantri di papan pengumuman tertempel daftar korban dari Keganasan Gunung Semeru, mulai dari korban sekarat sampai wafat lengkap tertempel dengan jelas. Sebuah peringatan dini yang tersirat, bahwa kita harus tetap berangkat dan pulang dengan selamat. Setelah menandatangani surat pernyataan bermaterai 6.000, yang menyatakan bahwa pendakian resmi hanya diijinkan sampai kalimati, selebihnya bukan tanggung jawab kami. Memang inilah salah satu regulasi di Gunung Semeru, jika kita ingin mencapai arcapada dan ke puncak semua resiko berada di tangan kita sendiri. Administrasi pendakian beres saatnya bagi saya untuk re-packing memasukan dan merapikan barang bawaan yang sempat keluar semalam untuk pengantar mimpi indah sebelum berjuang di medan Semeru.
Tanpa disadari ternyata jam hampir menunjukan pukul 09.00, padahal tinggal saya sendiri yang belum sarapan. Mumpung masih ada waktu untuk sarapan, akhirnya saya ke warung sambil berfikir inilah kesempatan terakhir makan yang nyaman setidaknya untuk tiga hari kedepan. Semua anggota dari team nampaknya sudah siap berkumpul di bawah tiang bendera di depan tugu kecil bertuliskan basecamp Ranupani. Detik-detik terakhir sebelum prosesi penjemputan impian di Mahameru benar-benar dimulai hal wajib yang harus diperhatikan adalah checking. Checking Covering Everything !!! Setelah check logistik, perkap, administrasi, serta fisik lengkap saatnya kita untuk melingkarkan dan merapatkan barisan. Meminta kepada yang kuasa Sang Pencipta Mahameru, minta restu, minta ijin, minta jalan semoga Tuhan memberkati prosesi penjemputan imipian ini di Mahameru. Berdo’a sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan masing-masing dimulai ... 
Basecamp Ranupane

The Real Execution ...
Tepat 09.30, cuaca yang bersahabat nampak-nampaknya akan mengiringi perjalanan kita menyusuri indahnya perjalanan menuju Mahameru yang merupakan puncak tertinggi di tanah Jawa, yang juga di kenal sebagai puncaknya Para Dewa. Terinspirasi dari lagunya Dewa 19 yang berjudul Mahameru dengan mendengarkan lagu ini apa yang kita citakan di Mahameru akan selalu terbayang dan terkenang dengan damai didalam lubuk sanubari. Untuk mencapai apa yang dikatakan para pendaki terdahulu tentang panorama di Gunung Semeru, kita bisa menggunkan dua jalur resmi yang biasanya wajar untuk digunakan. Yaitu jalur watu rejeng dan Gunung Ayek-ayek, dua spot inilah yang akan menjadi saksi bisu dari awal dan akhir perjalanan kita. Watu rejeng adalah jalur pendakian yang relatif landai dan bisa digunakan untuk sedikit bersantai. Untuk mencapai camp Ranukumbolo bila melewati jalur ini kita membutuhkan waktu tempuh sekitaran 6 jaman, sekitar 3 – 4 jam dari Ranupani menuju watu rejeng setelah itu dari watu rejeng ke ranukumbolo sekitaran 2 jam perjalanan. Bila kita hendak menggunakan jalur Gunung Ayek-ayek, waktu tempuh kita hanya sekitaran 4-5 jam.an untuk mencapai ranukumbolo namun track awal yang menantang dari jalur ini membuat sebagian besar pendaki enggan menggunakan jalur ini untuk keberangkatan, pasalnya bisa dipastikan tenaga kita akan terkuras di jalur ini padahal apa yang dinamakan Mahameru masih jauh didepan sana. Dari pos Ranupani kalau ingin mengambil track watu rejeng kita bisa mengikuti jalan aspal yang menuruni ladang penduduk, namun bila hendak menggunakan jalur Gunung ayek-ayek bisa bisa mengambil jalan beton di depan pos ranupani.  Ranupani – watu rejeng, kita akan menemui dua pos setelah pos kedua kita baru akan tahu mana yang dinamakan watu rejeng. Watu rejeng adalah sebuah jembatan yang terletak antara pos 2 menuju ke pos 3, sebuah jembatan yang terbuat dari kayu namun aman untuk dilalui. Sepanjang perjalanan tak banyak yang bisa diceritakan karena kabut terburu datang menutupi pandangan sehingga membuat jangkauan pandangan kita sangat terbatas. Bersamaan dengan para pendaki lain, jalur watu rejeng begitu rame lalu lalang para pendaki yang hendak naik ataupun yang turun. Dua hal yang membuat mata terbelalak adalah betapa kuatnya stamina para pendaki sejati dari luar negeri walaupun membawa carrier yang besar namun cara jalan mereka seolah tak ada beban, santai, lepas, melayang. Serta tenaga para warga lokal yang mengadu nasib demi rupiah mempertaruhkan seluruh tenaga mereka menjadi seorang porter, dengan beban yang luar biasa masih sanggup berjalan dengan lantang tanpa ada keraguan menyertainya. Rp 100.000,00/ hari itulah budget yang dipatok oleh para porter, sudah termasuk service membawa carrier, mendirikan tenda dome, serta mencari kayu bakar untuk penghangat badan ketika petang menjelang. Sungguh perjuangan yang luar biasa demi sesuap nasi untuk keluarga. Salute !!!
Setelah kita menyeberangi jembatan yang panjangnya sekitar 4 meter itu, kita akan segera menemui pos ketiga. Namun kondisi dari pos ini sudah roboh dan terburuk dari 2 pos lainnya. Hampir semua rombongan beristirahat di samping pos ini yang ada sedikit ruang untuk kita bisa rebahan. But damn !!! disaat kita sedang istirahat dengan kondisi yang lapar, tepat disamping kita ada rombongan keluarga besar yang nampaknya tujuan mereka ke Gunung Semeru adalah berwisata keluarga di ranukumbolo. Terbukti dengan banyaknya anak-anak yang saya perkirakan dibawah usia 10 tahun yang ikut serta dalam rombongan. Tanpa sungkan porter yang menyertai rombongan ini membagikan makan siang berupa nasi bungkus, tanpa basa-basi keluarga itupun makan dan kita sendiri hanya bisa melihat dan membuat suara untuk mencari perhatian. J tak ada kata sungkan di hutan !!! prinsip aneh ... Dari titik di pos 3 inilah, The Real Execution to ranukumbolo will be held, sebuah tanjakan berdebu curam yang sangat terjal menanti. Butuh slayer dan goggles untuk melalui tempat ini agar mulut dan saluran pernafasan kita terlindungi dari debu-debu beterbangan sepanjang jalur pendakian. Ini memang kabar buruk untuk menggapai ranukumbolo, namun inilah tanjakan terakhir sebelum kita melihat ranukumbolo saya sebut ini kabar baiknya. Jikalau kala itu tidak berkabut setelah kita melewati hard track kita akan bisa melihat ranukumbolo dari atas, namun sayang seribu sayang pemandangan ranukumbolo dari atas tak dapat tersaksikan. Namun tak apa dengan rahmad Sang Kuasa setelah kita sampai di pos 4 ranukumbolo, serentak kabut yang tadi menutupi pandangan mulai menghilang seolah membuka pandangan dari kedua bola mata, sub’hanalloh ... Maha Indah Ciptaan-Mu Ya Rabb ... Ranukumbolo for the first time !!! Great Moment !!! unforgettable !!! Ranukumbolo adalah sebuah sebuah spot basecamp yang terletak di lembah antara beberapa bukit mengelilingi, maka dari itu untuk mencapai ranukumbolo dari pos 4 kita harus menuruni bukit dan kemudian mengitari ranukumbolo tempat tujuan kita adalah camp di sebelah barat ranukumbolo. Dengan harapan pagi hari ketika fajar menyingsing, kita dapat melihat sunrise sebagai pemandangan pembuka sebelum kita melanjutkan penjelajahan penjemputan impian di mahameru... 
Ranu Kumbolo 
 
Bukit Teletubies

Terpaan malam ranukumbolo ... 
Tepat jam 15.00 kita mendarat dengan selamat, setelah melakukan pendakian yang cukup melelahkan untuk menuju ranukumbolo. Tanpa buang-buang waktu hal pertama yang harus dilakukan adalah bongkar carrier. Nesting, kompor, logistik, tenda dome harus dikeluarkan satu persatu. Dan pembagian tugaspun segera dilaksanakan ada yang memasak, ada yang mengumpulkan logistik, ada yang mendirikan tenda dome dengan tujuan kepentingan kelompok segera beres sehingga waktu yang tersisa akan segera bisa digunakan untuk istirahat. Setelah sebagian tugas selesai ada yang pergi mencari kayu bakar untuk perapian nanti malam sebagai penghangat badan dan pengusir kemungkinan hewan liar. Setelah mie, sayur dan nasi matang akhirnya kita semua bisa makan bersama-sama beralaskan dengan kertas minyak semua tangan maju mencari sesuap nasi untuk mulut mereka masing-masing. Belum ada 15 menit, makanan yang begitu banyak habis rantas, tak tersisa. Namun beberapa saat setelah pesta makan, gerimis turun di ranukumbolo membuat suasana yang tadi riang sedikit kurang tenang karena keadaan yang datang kurang mengenakkan. Berhubung saya masih pemula, Semeru barulah pendakian ke 5 saya setelah lulus SMA namun dari beberapa pengalaman saya, camp di Ranukumbolo adalah camp termewah selama saya mendaki. Di sini tersedia dua buah bangunan yang cukup megah, yang satu sudah cukup tua tapi masih layak untuk keadaan alam seliar Semeru. Yang satunya sangat megah untuk ukuran camp di gunung, benar-benar perawatan yang luar biasa dari TNBTS. Sebuah bangunan persegi panjang dengan ukuran 12 x 6 m saya perkirakan, lengkap dengan atap dan dinding yang berdiri tegap. Bahkan di dalam ruangan ada dipan untuk tempat tidur, sungguh fasilitas yang tak ada duanya di gunung lain. Berhubung gerimis yang turun tak kunjung reda 2 tenda dome dari rombongan kita yang tanpa pelapis fly sheet, kita pindah di teras bangunan megah yang memang waktu itu, kita adalah orang pertama yang memakai tempat. Para pendaki yang sudah sampai dari tadi memilih tetap menggunakan dome mereka beralaskan tanah beratapkan langit.  Petang menjelang, api unggun segera kita nyalakan untuk teman dikala gelap dan dinginnya kabut yang mulai menyerang. Semakin malam udara yang diberikan oleh lembah ranukumbolo semakin menusuk, tak kuat rasanya kita untuk berlama-lama menjamu malam di ranukumbolo dengan mata terbuka. Harus segera masuk tenda dan beristirahat ... beberapa saat saya beristirahat dinginnya udara di ranukumbolo memang tak bisa dihindari, walaupun sudah di dalam tenda dome, beralaskan matras, dan berselimutkan SB tetap saja itu semua semacam nihil. Karena tidak bisa nyenyak dalam beristirahat sekitaran jam 02.00 saya terbangun lagi dan memutuskan untuk meninggalkan dome dan masuk kedalam ruang memilih untuk berdesak-desakan supaya bisa memaksimalkan istirahat malam ini. Seorang pepatah berkata. “pucuk dicinta ulampun tiba” hal ini saya alami ketika pindah kedalam ruangan, ternyata teman saya satu rombongan ada yang sedang membuat makanan cepat saji dan kopi. Dengan riangnya sayapun langsung ikut gabung dan minta space. J kenyang dan sedikit kehangatan mulai merasuki tubuh saya, membuat suasana pengantar tidur saya menjadi semakin berwarna. Dan akhirnya ... pagi datang !!! namun sayang sekali ... pagi itu Sabtu, 7 Juli 2012 hari yang kita tunggu untuk dapat sunrise di lembah ranukumbolo, gatot alias gagal total karena tebalnya kabut menutupi sang mentari yang akan menyinari semangat baru hidup ini. So sad  ... !!!
almamater FH UII
inside shelter





suasana pagi si ranu
squad

Bisikan Mitos, padang nan menawan, dan akhirnya gerbang ...

tanjakan cinta
 
oro oro ombo
  
boyband lagi  foto cover album
    
      Sedikit kekecewaan masih tergurat di wajah pagi itu, sang mentari yang diharapkan muncul diantara sela dua bukit gagal menampakkan suryanya karena kabut tebal yang tak segera sirna. Padahal moment sunrise di ranukumbolo adalah salah satu tujuan indah para penjelajah untuk dapat bernostalgia dengan masa TK (Taman Kanak-kanak) mereka. Saat itu Guru menyuruh murid-muridnya menggambar pemandangan, dengan perintah ini tak dapat dipungkiri gambar 2 gunung dan matahari yang sedang mulai muncul ditengah-tengahnya pasti ada. Inilah satu hal yang saya pribadi sebenarnya berkeinginan kuat untuk bisa menyaksikannya secara langsung dengan mata kepala saya, tak hanya sekedar cerita belaka. Namun apa daya ketika semua harapan tak dapat menemukan titik tujuan, yang semula harapan akan kembali jadi sebuah angan-angan yang hanya bisa untuk dibayangkan. Setelah salah satu pemandangan terindah di Gunung Semeru gagal untuk dipandang, kita segera berbenah untuk melanjutkan langkah demi kelanjutan penjemputan impian di Mahameru. Namun sebelum kesitu perlu kiranya badan ini untuk dibersihkan, segera saja salah seorang teman mengajak untuk mandi di ranukumbolo. Dingin air danau di pagi hari sempat mengurungkan niat untuk MCK kala itu, tapi karena badan mulai gatal-gatal keputusan untuk mandi tak bisa dihindari lagi. Pergilah kita ke seberang jauh dari tempat camp untuk dapat menemukan spot yang cocok untuk bercumbu dengan dinginnya si ranu. Setelah dikira aman dan cocok ... akhirnya !!! byur ... byur ... byur ... hanya berbalut under wear secepat kilat badan ini basah bersamaan dengan mulai lunturnya daki-daki yang ada hampir di seluruh badan. Sungguh satu lagi kenikmatanNya yang tiada tara, segar dan damai yang tiada kira. Maha Besar Engkau wahai Sang Penjaga. Tak kuat tubuh ini berlama-lama terendam dalam ekstremnya air sumber kehidupan di tepi jauh si ranukumbolo. Bergegas setelah kita berpakian kembali ketempat camp untuk mulai sarapan dan re-packing barang-barang bawaan yang sekiranya memang kita perlukan untuk melanjutkan pendakian.
            Tepat jam 10.00 pagi udara yang ada di kawasan ranukumbolo mulai menghangat bertepatan dengan semua persiapan yang sudah mantap untuk meneruskan langkah kaki menuju tempat suci yang lebih tinggi dari ini. Tanjakan Cinta,,, ya inilah track selanjutnya yang harus di lewati oleh para pendaki, sebuah mitos yang sudah tak asing lagi terdengar dari tanjakan ini, “barang siapa yang berhasil mencapai puncak dari tanjakan cinta tanpa berhenti dan tanpa menolehkan pandangan kebelakang disertai fikiran membayangkan seorang yang jadi pujaan ... Katanya hubungannya bakalan langgeng”  (sekedar info saja ya, jangan pada salahpaham) Kalau saya pribadi tidak ambil pusing dengan track ini, masalah cinta biar Dia Yang Kuasa yang punya rencana. Namun kalau ada yang mau mencoba silahkan saja, anggap saja ini sebagai pemanasan awal sebelum menuju oro-oro ombo, cemoro kandang, jambangan dan kalimati. Tak terlalu curam memang namun panjangnya tanjakan perlu dipertimbangkan jika teman-teman hendak mencobanya hanya dalam sekali jalan tanpa peregangan. Hemat tenaga dan jangan pernah memaksa itulah hal yang harus dipertimbangkan karena dari tanjakan cinta track menuju camp selanjutnya lebih ekstrem dan sengatan panas mulai kembali mengganas. Pemandangan dari puncak tanjakan cinta memang menakjubkan, mungkin hal ini juga yang melandasi kenapa tanjakan ini diberi nama tanjakan cinta disamping memang kalau kita lihat dari puncak bentuk ranukumbolo,,, katanya seperti love.
            Tak seperti yang diceritakan oleh seorang teman ternyata ungunya taman lavender di padang rumput oro-oro ombo sudah mulai tak tampak sempurna. Namun masih ada beberapa tanaman lavender yang memang masih tumbuh mewarnai zona ini. Ada satu jalur memutar untuk melewati oro-oro ombo, ada juga satu jalur menerjang tengah dari oro-oro ombo. Normalnya jika kita berangkat banyak pendaki yang memilih untuk menuruni dan menerjang tengah dari padang rumput ini. Keadaan rumput yang sebagian mengering serta tingginya yang hampir menyentuh leher membuat zona ini semacam kawasan murni dari Afrika. Jika dirumah anda punya Singa, Jerapah, Cheetah ataupun Gajah lepaskan atau pindahkan supaya mereka hidup di kawasan ini. Sungguh akan seperti padang sabana dan stepa liar yang banyak terdapat di Afrika.  Kalau anda pernah tahu film legendaris yang berjudul The Ghost and The Darkness, inilah kawasan simulasinya yang ada di Indonesia.  Sengatan panas yang luar biasa tak membuat kita jera, kapan lagi kita disini mumpung ada kesempatan saatnya kita bereksperimen. Berjalan-jalan menyusup rerumputan, berlarian, berfoto di celah tanaman menjadi hal-hal seru dan mengesankan yang sangat sulit untuk tidak kita kenang sepanjang kita masih ada ikatan dengan alam. Saya temukan dunia yang benar-benar baru di kawasan ini, kawasan liar yang memang penuh dengan kedamaian dan ketidakbiasaan dari lingkungan sekitar.
Puas menerjang belukar di oro-oro ombo sampailah kita di gerbang yang akan membawa kita ke cemoro kandang. Jangan anda bayangkan gerbang ini seperti gapura di rumah anda ataupun di batas kota. Gerbang cemoro kandang ditandai dengan dua batang pohon tumbang yang melintang menutup jalan, agak teduh dan pas untuk sejenak bernafas setelah bertarung dengan panas. Hal penting yang harus kita siapkan disini adalah masker ataupun slayer, ini menjadi vital karena medan yang akan kita tempuh nanti mulai berdebu dan bisa dipastikan jika berjalan secara beriringan barisan belakang akan jadi korban debu yang beterbangan. Sedikit rindang dengan beberapa pepohonan besar dikanan-kiri jalan membuat perjalanan di zona ini begitu nyaman dan menyenangkan. Namun track yang agak jauh akan membuat kita sedikit gundah dan mulai tak bentah, persiapan air yang maksimal sangat direkomendasikan untuk membasahi tenggorokan yang kering karena kehausan. Disamping itu jangan lupa membawa madu sachetan untuk selalu melumasi mulut kita, sedikit membantu mengurangi bibir kita kering dan potensi bibir pecah-pecah. Jika dilogikapun madu rasanya manis, dan yang manis-manis itu pasti bisa digunakan untuk memulihkan tenaga kita. Benar bukan ??? Mulai dari track ini, kita satu rombongan tidak bisa berjalan dalam satu team karena kondisi fisik dan beban yang kita bawa berbeda, sehingga ada beberapa anggota rombongan memutuskan untuk berjalan duluan dengan tujuan lebih cepat sampai camp idaman. Saya pun ikut rombongan belakangan, berjalan santai menikmati medan ini dengan senang hati. Disela-sela jalan jika mata kita jeli untuk melihat kanan-kiri ada sebuah tanaman kecil yang berbuah, saya menyebutnya “ciplukan” (mohon maaf tidak tahu nama umumnya) bulat-bulat kecil yang terbungkus seperti didalam daun jika sudah masak rasanya sedikit asam manis namun begitu segar di tenggorokan. Anggap saja ini sebuah bonus bagi kita!!! J Setelah cukup lama melintas di zona cemoro kandang kita akan memasuki medan yang diberi nama jambangan, ditandai dengan sebuah dataran yang cukup luas untuk sedikit kembali bernafas. Dan ... Waow !!! akhirnya dengan gagah perkasa dataran tinggi berpasir miring mulai menampakkan jati diri, terlihat jelas dari sini betapa gersang, betapa terjal, tanpa satu pohon pun yang ada hanya pasir dan bebatuan. Satu gerutuan terdengar, bagaimnana mendakinya ??? Sebuah celetukan yang sebenarnya penuh makna bagi kita, pelecut mental dan jati diri siapkah kamu mendaki di pasirku ??? Sambil terus memandang bergantian dengan teropong, kita memutuskan untuk sedikit berlama-lama disini, toh ... camp kalimati tinggal 30 menit darisini dan tak ada lagi tanjakan setelah ini yang ada hanya turunan yang membawa kita pada sebuah kesenangan. Oh ... jambangan inilah yang saya pribadi namakan gerbang pendakian !!! Karena dengan jelas dari tempat ini kita bisa melihat puncak gersang nan menantang. Berfoto-foto, berlarian di rerumputan dan menghisap asap kenikmatan menjadi bagian dari istirahat kali ini. Ada kiranya satu jam kita duduk ditempat ini bercengkrama dengan pendaki lain yang turun ataupun yang baru datang dibelakang kita.  Keakraban dan suasana sok kenal tercampur dengan harmonis di zona ini.
Langkah selanjutnya, kita akan melewati jalur menurun yang sangat rindang dengan lebatnya pepohonan yang berbentuk seperti lorong panjang seakan kita berada dibawah jembatan jalan layang. Begitu rindang dan tenang tanpa kebisingan menjadi tempat yang pas bagi kita untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Sebuah jembatan dari kayu yang tumbang membuka jalan untuk melanjutkan pendakian penjemputan impian di puncak idaman. Terus dan keterusan jalur yang menurun menuntun kaki ini menuju salah satu tujuan di balik terjalnya Taman Nasional Gunung Semeru. Dari kejauhan nampak jelas sebuah padang rumput yang mulai kering menguning sebagai pertanda inilah yang disebut sebuah camp kalimati batas akhir resmi dari jalur pendakian yang diijinkan oleh pengelola TNBTS. Tak jauh dari sini sekitar 1,5 - 2 km berjalan ke arah barat atau 30 menit jalan kaki pp, ada sebuah mata air yang dikenal sebagai sumber mani. Mata air yang menetes dari sebuah tebing indah di tengah-tengah kalimati sebagai penyambung hidup panasnya padang gersang yang menantang. Jika kita beruntung datang ke mata air sumber mani ini dengan keadaan sepi, bisa kita manfaatkan air ini untuk bersih diri sekedar cuci muka ataupun mandi. Sampailah jiwa dan raga letih ini di camp kalimati, kalimat syukur pun terucap dalam hati sebagai tanda untuk mengakhiri perjalanan kita di season ini. Persiapan menghadapi malam pun kami lakukan seperti malam sebelumya, namun bedanya nanti malam kita akan benar-benar bertarung dengan dinginnya keadaan untuk mencoba menaklukkan puncak idaman yang telah lama menjadi impian. Jangan sampai apa yang telah kita idamkan dan impikan gagal untuk kita tunaikan dan akhirnya kembali menjadi sebuah angan-angan. Semangat !!!

gerbang cemoro kandang
 
jambangan
 
jembatan kayu
 
kalimati
Antara kesetiakawanan, keputusasaan dan harapan ...

            Memang malam ini adalah malam yang panjang bagi saya pribadi, mungkin juga buat anggota satu team. Setelah tidur didalam tenda dome sekitaran 3-4 jam, akhirnya mulai pukul 23.00 6 Juli 2012 kita semua sudah harus bangun untuk melakukan persiapan SUMMIT ATTACK. Walaupun istirahat kurang wajar, jika dibandingkan dengan lama tempuh perjalanan ini tak jadi rintangan yang penting sedikit waktu yang ada berhasil kita manfaatkan jadi tenaga. Mulai dari :
-        Baju double
-        Celana double
-        Jacket + raincoat
-        Balaclava/ masker/ slayer
-        Goggles + Kacamata bening
-        Sarung tangan
-        Headlamp
-        Gaiter
-        Daypack
-        Air @ 3 L pp
-        Snack/ roti
-        Sepatu
-        Kamera
-        P3K lengkap
-        O2 tabung

mahameru, soe hok gie and me
terharu
interpro law faculty of uii
happy Milad UII
lebih tinggi INDONESIA Ku
graduation celebration
not U or Me but Us

Itulah perlengkapan standar menurut saya pribadi sebagai safety yang harus terpenuhi untuk melakukan summit attack Gunung Semeru malam itu. Yang paling vital disini adalah air minum, jangan pernah meremehkan untuk membawa persediaan air minum untuk mendaki puncak mahameru tanjakan tajam selama 5 – 6 jam tanpa turunan sudah siap menghadang didepan. Satu hal yang patut kita syukuri kala itu, suasana terang penuh bintang di langit semakin mempercantik penampakan dari bulan purnama yang semakin membuat pendakian kali ini penuh makna dan berwarna. Setelah semua anggota siap dengan perkap dan kebutuhan masing-masing briefing pun dimulai untuk memusatkan tujuan dan perhatian serta kewaspadaan. Dinilai semua siap , berdo’a minta pada Sang Pencipta puncak perkasa supaya apa yang kita lakukan dalam pendakian kali ini diberkahi olehNya, semoga Tuhan memberikan kekuatan, kesehatan serta keselamatan kepada team ini untuk bisa merasakan gagahnya ciptaanMu, and ... finally SUMMIT ATTACK WAS BEGUN !!!
Dua prinsip memulai perjalanan, “puncak adalah bonus, yang penting kebersamaan” atau “puncak memang impian tapi bukan satu-satunya tujuan”. Tapi bagi saya pribadi setiap pendakian adalah puncak !!! Tak masalah kita berbeda prinsip dalam pendakian yang penting apa yang menjadi tujuan dapat tercapai sehingga memuaskan angan. 00.00 WIB 7 Juli 2012, maju jalan ... Malam ini start awal kita berjalan menuju ke arah timur dari camp kalimati, kita menuruni apa yang dikenal sebagai zona kalimati sebuah tempat yang saya perkiraan sebagai salah satu tempat muntahan lahar Semeru ketika masanya. Ada sebuah papan tulisan, “anda memasuki kawasan arcapada” sebagai tanda bahwa apa yang kita lakukan disini adalah atas kehendak kita sendiri, dan jika terjadi suatu hal yang tidak diinginkan kitapun sadar ini diluar tanggung jawab pengelola Taman Nasional. Sebuah track awal yang lumayan masih datar membuka jalur di arcapada ini, namun terpaan debu yang beterbangan sedikit mengganggu jalannya nafas di organ kami. Sedikit sesak dan kurang nyaman memang, namun inilah jalan dan rintangan yang sedari kemarin sudah menantang didepan menunggu untuk dipijak dan dikalahkan. Tak boleh ada kata lengah pasalnya kalau kita hilang kewaspadaan bisa-bisa kita yang akan dikalahkan oleh terjalnya medan pendakian. Belum jauh kita melangkah nafaspun mulai tersengal-sengal pertanda arcapada memang track yang bukan diperuntukan untuk mereka yang coba-coba. Ketika barisan sedikit merenggang, ada teriakan keras dari barisan belakang break ... break ... break ... kumpul lagi, istirahat dan minum. Tak bisa dipungkiri track di medan ini memang menguras tenaga kami, padahal ini belum puncak mahameru yang dikenal sangat ganas tanpa ampun  kepada siapapun. Ketika kami sampai di tempat camp arcapada ternyata ada beberapa tenda dome disini, dalam hati saya berfikir bagaimana cara fikir mereka kenapa mereka mau membuat camp disini, jauh dari air, serta medan untuk menuju tempat ini yang begitu berat apalagi mereka harus membawa beban carrier dari bawah menuju camp ini. Sungguh satu hal yang memang tidak saya rekomendasikan. Semakin jauh kaki ini mencari tempat yang tinggi semakin panas juga badan yang terbungkus beberapa kain tebal ini. Nampaknya cucuran keringat mulai terasa didalam pakaian, suatu kondisi yang sedikit membantu menghangatkan badan jika kita berjalan namun jika kita berhenti terlalu lama hawa dingin pun kembali menusuk sampai ke rusuk. Kita masih bisa mempertahankan kesetiakawanan dalam rombongan sampai batas vegetasi antara arcapada dan puncak mahameru. Ketika mendekati batas vegetasi ini The Real Extreme dimulai, jalanan sempit berpasir yang hanya selebar kurang dari satu meter dengan kanan kiri jurang tanpa pembatas menghadang didepan, salah-salah ketika melangkah kaki kanan ataupun kiri terperosok seluruh badan bisa terbawa meluncur sampai ke dasar jurang, mengingat medan berpasir yang begitu miring. Jalur ini ada kiranya sepanjang 50 meter ke depan. Membuat mata dan otak ini harus bekerja ekstra untuk memusatkan konsentrasi supaya dapat melalui rintangan ekstrem ini dengan hati-hati. Track di medan ini memang lebih ngeri setelah terjadi erupsi beberapa bulan yang lalu, siap mencari mangsa untuk siapa saja ...
            Harapan yang tersematkan di fikiran membuat setiap langkah menjadi penuh arah, seakan tak pernah lelah walaupun pasir dan batu terjal mulai marah. Ketika melewati batas dari vegetasi perjuangan yang begitu dan sangat berat harus terlewati, disaat medan yang begitu menyulitkan terpaan udara malam menambah perjuangan ini semakin mengenaskan. Tanpa pepohonan di puncak pasir, angin malam yang datang langsung menerpa masuk ke dalam raga menambah gontai langkah ini yang sudah sulit menghadapi lorotan pasir yang sedari tadi di daki. Bisa dibayangkan setiap kali melangkah setengah langkah dari pijakan kaki pasir kembali kebawah, setiap melangkah lorotan pasir meluncur kebawah, begitulah langkah kita selama bercumbu dengan pasir puncak semeru lebih dari 3 jam. Dataran berpasir miring yang nampaknya begitu lemah ketika dinaiki namun jangan salah jika pasir ini meluncur kebawah anda sendiri tak akan pernah bisa mengendalikan diri anda sendiri, meluncur seperti perosotan anak-anak dengan kecepatan seperti motor turun dari turunan tanpa memasukan gigi. Belum lagi dengan batu terjal yang yang menghadang, memang sudah ada peringatan, “dilarang keras menginjak batu” jika ada batu sebesar bola tenis menggelinding dari atas dengan kemiringan 45o mengenai lengan anda, satu batu saja dapat mematahkan lengan itu. Itupun kalau yang terkena lengan ataupun kaki, nah ... kalau yang tertimpa kepala ??? Bisakah kita membayangkannya akan seperti apa jadinya, mengalami kecelakaan ditempat semacam itu ??? Safety pribadipun tak akan pernah cukup tanpa diikuti safety dari pendaki lain dalam melakukan pendakian, maka dari itu kewaspadaan adalah kunci utama di track ini. Tak pernah bisa bertahan lama dalam mencoba mendaki dengan medan ini, dengan beberapa langkah dadapun mulai sesak tak terhitung lagi berapa puluh kali diri ini istirahat untuk bernafas mengembalikan tenaga, konsentrasi dan mental. Punya tenaga tak punya mental juara disini, nothing. Kita tak bisa berbuat apa-apa jika tak bisa mengontrol emosi kita, apa yang kita tahu sebagai keputusasaan selalu muncul membayang di angan-angan jika mengingat track yang kita lalui semacam ini gilanya. Toh kita jalan pun, tambahnya tidak bisa banyak-banyak dan di pasir sinipun kita memakan waktu yang begitu lama, dengan pemandangan disana-sini yang terlihat hanya pasir dan batu tidak kelihatan apa yang diceritakan orang sebagai puncak mahameru yang megah itu. Muak !!! nah itulah hal pasti terjadi disini. Tak bisa dipungkiri ganasnya mahameru memang memuakkan untuk ditaklukkan, hanya mereka yang bermental juara yang bisa memenangkannya dan saya ingin menjadi bagian dari orang-orang bermental juara itu. Disaat saya sedang beristirahat ada beberapa pendaki yang sudah gugur dalam mengarungi jalur maha dahsyat ini. Satu demi satu para pendaki itu turun dengan wajah kecewa dan gontai, mereka tidak bisa menyembunyikan rasa kesal, mereka telah gagal di track ini. Entah kenapa ketika beristirahat mata ini mulai terpejam tak tahan menahan belaian lembut sang malam dengan terpaan angin nan menantang, bisa dibayangkan bagaimana jika dalam keadaan tertidur saya terperosok kebawah dan tak bisa mengendalikan diri ??? naudzublillah ... salah satu kesalahan saya dalam menghadapi dinginnya sang malam di puncak purnama, harusnya saya tidak boleh terpejam, tidak boleh rebahan, tidak boleh berisitrahat terlalu lama jangan sampai ketika kita terlena hipotermia menyerang kita. Ini akan membuat rugi dan penyesalan yang amat sangat dalam diri kita. Kita harus tetap bisa mengendalikan diri kita dalam kedinginan dan kelelahan untuk menghindari hal-hal kurang mengenakkan yang sekiranya berpotensi menyerang. Terus ... terus ... terus ... dan terus ... berjuang !!! itulah yang saya lakukan di puncak itu. SAYA SUDAH SAMPAI DISINI, LANJUTKAN !!! Tidak ada kata Tidak, Harus tetap maju. Walau kaki ini tak kuat berjalan lagi, tangan dan dagu ini akan membantu mengantarkan penjemputan mimpiku di puncak Mahameru. Sebuah lagu di Indonesian Idol yang dibawakan Sean dan Regina, “Kemenangan adalah milik orang-orang yang berjuang” menjadi pelecut semangat di pagi itu. Di kala tekad sudah bulat, hati sudah mantap tinggal kita berangkat untuk menjemputnya. Dan disini saya tidak mau gagal. MAHAMERU beri aku kesempatan sekali dalam 20 tahun umurku ini... cucuran airmata keluar ketika puncak yang dinanti nampaknya sudah mulai terkira,,,
Demi matahari dan cahayanya di pagi hari ...
Demi bulan apabila mengiringi ...
Demi siang apabila menampakkan ...
Demi malam apabila menutupi ...
Demi langit dan pembinaannya ...
Demi bumi dan penghamparannya ...
Dan demi jiwa serta penyempurnaanya ...
Aaaaaaaaa ..................!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Allahu Akbar !!!!!!!!! PUNCAK !!!
Tanpa ragu sujud syukur, terhatur di dataran Mahameru yang memang mahasempurna. Puji syukur Tuhan, Engkau telah berikan akau kekuatan serta kesempatan untuk sampai di tempat ini dengan selamat !!! Untuk mereka semua yang telah menyayangiku, Bunda, Sahabat, Teman dan Kawan inilah kado yang aku berikan untuk kalian semua !!! Terimakasih atas doa dan kasihmu !!!
Akhirnya pada pukul, 04.42 WIB Senin, 7 Juli 2012, saya IRKHAM ZAMZURI telah berhasil mencapai puncak tertinggi di tanah Jawa, puncak mahameru, Gunung Semeru 3.676 mdpl. Haru serta bahagia mewarnai perjalanan penjemputan mimpi di puncak mahameru, tak ada hal yang mustahil. Jika memang kita punya niat dan sudah bertekad hanya tinggal satu hal lagi yang harus dilakukan yaitu perjuangan. Sama hal nya jika hal ini kita implementasikan dalam dunia pendidikan, jika kita bermimpi dan terus belajar bodohpun bisa menjadi pintar. Tak peduli dimana kamu belajar entah negeri ataupun swasta, tak peduli seberapa tebal harta orangtuamu, inilah tentang kamu. Bukan tentang usaha sekolah atau orangtuamu, inilah tentang perjuanganmu dalam menjalani hidup. Jika kita belajar hidup keras dan berat sedari muda kelak ketika kita dewasa kitapun siap menghadapi hidup tanpa bantuan orang tua. Jangan pernah jadi pemuda parasit, teman !!! Ini impianku, mana impianmu ???

Jika memang diterima, ini semua saya persembahkan untuk :
1.      Bunda Tercinta
2.      IP UII, mega inauguration 2012.
3.      Ambalan dan DKR Karanganom
4.      Dia, ... yang entah kemana

*Foto dan Narasi oleh : ASA dan IZ