Oleh: Irkham Zamzuri
Ketika putaran roda sampai ke bawah terkadang becek tanah, cadas batu, panas aspal bahkan kotoran hewan sepanjang jalan tak luput dari injakan.
Di atas ataupun di bawah yang namanya roda pasti terus berjalan.
Bisa bergerak ke depan ataupun mundur ke belakang.
Tergantung kemana pedal kau ayunkan.
Klaten. September. 2015
"Mulailah menulis tidak peduli apa. Air tidak mengalir sampai keran dihidupkan." (Louis L'Amour)
Laman
Rabu, 01 Februari 2017
Sikap
Oleh: Irkham Zamzuri
Jangan kekanan cuma karena suara mayoritas kekanan.
Ah, pokok nya jangan ikut-ikutan.
Apalagi hanya karena mau cari aman.
Kekirilah kalau harus kekiri, kekananlah kalau harus kekanan.
Nyatakan.
Tegaskan.
Putuskan.
Jangan diabu-abukan.
Kiri atau kanan.
Pilih !
Bukan diam ditengah nunggu hembusan angin menerbangkan.
Berani kau jadi pembeda dan berbeda ?
Selasa, 31 Januari 2017
Mahasiswa Non-Aktif Kangen
Oleh: Irkham Zamzuri
Kamu, kampusku apa kabar?
Kamu, tempatku dulu 'dihajar' apa kabar?
Kamu, tempatku dulu berdinamika apa kabar?
Kamu, tempatku dulu berjejaring ria walau bermodal sok tau dan omdo aja, apa kabar?
Kamu, tempatku dulu 'jatuh' apa kabar?
Dengar-dengar, katanya kamu sekarang terkenal ya, lebih terkenal dari sebelum nya maksud ku.
Ada apa gerangan? Kok tetiba viral?
Kamu sehat-sehat aja kan, ndak lagi 'sakit'kan?
Semoga ini hanya sebatas badai kecil belaka aja ya, seingatku sih, kamu tangguh, kuat, bermental baja gitu.
Apalagi, 'dalaman'mu teduh penuh naungan Tuhan, seperti yang akhir-akhir ini terdengar, mudah-mudah an masih benar.
Gimana perkembanganmu? Satu setengah tahun sudah kita berpisah, terakhir ku ingat waktu ku pergi, sebentar coba ku ingat, ah... suram kala itu. Awan mendung sudah pergi belum ya, jawab dong, aku tanya kabar mu ini? siapa tau suatu saat nanti, kalau bisa segera, kita bisa nostalgia ya.
Sekarang aku sudah bisa membuat perbandingan loh, berwacana dan kerja nyata. Kalau misal aku balikan sama kamu, apakah orang seperti ku masih kamu terima? Ternyata, ku kasih tahu kamu ya, kerja nyata itu berbeda sekali daripada sok tau dan berwacana saja. Berat sekali rasanya. Dan kamu tau, cuma bisa melakukan hal-hal kecil sahaja, tak se wah tak se megah kayak omongan2 dulu itu, tapi rasanya jangan tanya, luar biasaaaa.
Itu dr pengalamanku pribadi loh ya, coba sekiranya bisa sampaikan itu ke beberapa anggota mu. Biar apa, katamu??? Ayolah... kita sama2 gede dan sudah tau, sok tau itu ndak tau apa2 kan sejatinya? Kasian kalau jenis2 seperti ini masih kau tetaskan. Nah, apalagi kabarnya, namamu lagi terbang melayang, bisa nih momentum ini kamu manfaatkan, buat bilang terang2an dengan lantang, mumpung kamu lagi di atas, gini deh, "misal masih sok tau tp terus sok2an" kelaut aja gitu. Gimana, pus? Sepakat ndak nih? Males nanti kalau aku balik, tp masih banyak yang gitu-gitu itu.
Ah, tapi apapun itu, terserah kamu lah. Aku masih sayang kamu, pus, asal kamu tahu. Cuma lagi kangen aja, biasa kan misal ngelantur.
Kamu, kampusku apa kabar?
Kamu, tempatku dulu 'dihajar' apa kabar?
Kamu, tempatku dulu berdinamika apa kabar?
Kamu, tempatku dulu berjejaring ria walau bermodal sok tau dan omdo aja, apa kabar?
Kamu, tempatku dulu 'jatuh' apa kabar?
Dengar-dengar, katanya kamu sekarang terkenal ya, lebih terkenal dari sebelum nya maksud ku.
Ada apa gerangan? Kok tetiba viral?
Kamu sehat-sehat aja kan, ndak lagi 'sakit'kan?
Semoga ini hanya sebatas badai kecil belaka aja ya, seingatku sih, kamu tangguh, kuat, bermental baja gitu.
Apalagi, 'dalaman'mu teduh penuh naungan Tuhan, seperti yang akhir-akhir ini terdengar, mudah-mudah an masih benar.
Gimana perkembanganmu? Satu setengah tahun sudah kita berpisah, terakhir ku ingat waktu ku pergi, sebentar coba ku ingat, ah... suram kala itu. Awan mendung sudah pergi belum ya, jawab dong, aku tanya kabar mu ini? siapa tau suatu saat nanti, kalau bisa segera, kita bisa nostalgia ya.
Sekarang aku sudah bisa membuat perbandingan loh, berwacana dan kerja nyata. Kalau misal aku balikan sama kamu, apakah orang seperti ku masih kamu terima? Ternyata, ku kasih tahu kamu ya, kerja nyata itu berbeda sekali daripada sok tau dan berwacana saja. Berat sekali rasanya. Dan kamu tau, cuma bisa melakukan hal-hal kecil sahaja, tak se wah tak se megah kayak omongan2 dulu itu, tapi rasanya jangan tanya, luar biasaaaa.
Itu dr pengalamanku pribadi loh ya, coba sekiranya bisa sampaikan itu ke beberapa anggota mu. Biar apa, katamu??? Ayolah... kita sama2 gede dan sudah tau, sok tau itu ndak tau apa2 kan sejatinya? Kasian kalau jenis2 seperti ini masih kau tetaskan. Nah, apalagi kabarnya, namamu lagi terbang melayang, bisa nih momentum ini kamu manfaatkan, buat bilang terang2an dengan lantang, mumpung kamu lagi di atas, gini deh, "misal masih sok tau tp terus sok2an" kelaut aja gitu. Gimana, pus? Sepakat ndak nih? Males nanti kalau aku balik, tp masih banyak yang gitu-gitu itu.
Ah, tapi apapun itu, terserah kamu lah. Aku masih sayang kamu, pus, asal kamu tahu. Cuma lagi kangen aja, biasa kan misal ngelantur.
Kamis, 08 Desember 2016
Merdeka Namun Terpenjara
Oleh : Irkham Zamzuri
Kawan muda seperjuangan dimanapun kalian ‘berperang’
Salam ...
Berjuang itu tidak melulu tentang membela kepentingan
orang
Termarginalkan memang bagian dari kerasnya kehidupan
Tak akan lepas kejamnya gilas-menggilas
Melindas atau terlindas, makan atau dimakan, rakus atau
kurus.
Kau mau berdiri dimana?
Merasa iba dengan nestapa diluar sana
Tak bisa apa-apa karena tak berdaya
Bukan lantas berdiam tanpa suara
Makna ‘juang’ itu wujudnya beraneka rupa
Besar dan kecil sebatas proses semata
Tanggung jawab itu dipelajari sedari dini
Tanggung jawab terkhusus untuk diri sendiri
Tanggung jawab mengurus diri
Diiringi dengan kesadaran hakiki
Tanpa paksaan, penuh kemerdekaan
Merdeka itu bukan semata terbebas dari jeruji besi
Kebebasan berpikir adalah kunci
Kunci awal memerdekakan diri
Jangan terjebak dalam kurungan ‘kepala’ sendiri
Baru nanti bisa ‘bertarung’ selangkah lebih tinggi
Namun dengan catatan, otak ini bebas dan tak pernah
berbatas
Bertanggung jawab penuh kesadaran untuk berjuang,
awesome!
Selasa, 06 Desember 2016
Aku Suka Berkontemplasi
Oleh : Irkham Zamzuri
Malu bertanya sesat di jalan, kan ?
Daripada tersesat kenapa tidak bertanya
Bertanya apa, kepada siapa, dan tentunya kapan saja
Karena rasa ingin tahu itu manfaatnya luar biasa.
Seorang pembelajar muda apalagi,
Modal utamanya cuma harus tetap merasa bodoh dan lapar
“Stay Foolish Stay Hungry”nya Steve Job
Membuat kita tak pernah kenyang untuk belajar.
Sekarang muncul 2 masalah besar bagi seorang pembelajar
muda
Dilema, bernama semacam itu kira-kira
Esensi atau Eksistensi
Esensi itu, apa ?
Eksistensi itu, apa ?
Kenapa menjadi 2 masalah besar ?
Kalau masalah, berarti harus di pilah-pilah ?
Apakah kedua-dua nya benar adanya sebagai sebuah masalah
?
Duh ... Duh ... Duh ... Banyak tanya sekali saya. Tapi
tak apa, berarti rasa ingin tahuku masih ada.
Saya bertanya, saya mencari jawaban, terkadang menemukan
dan tak jarang belingsatan kebingungan.
Jadi apa yang harus saya pelajari, esensi atau eksistensi
?
Orang lain mungkin bisa membantu menjelaskan, namun untuk
bisa memahaminya bagaimana ?
Akhirnya merenung adalah jawaban dari semua
pertanyaan-pertanyaan. Saatnya rohani bekerja giat nan keras.
Senin, 05 Desember 2016
Berhasrat Dengan Kuat
Oleh : Irkham Zamzuri
Sejauh yang saya pribadi pahami, hasrat adalah sebuah
keinginan atau kehendak yang kokoh untuk mengejar, memperjuangkan dan mungkin
pada akhirnya bisa mendapatkan sesuatu yang dihasrati. Apapun itu lah bentuk
nya, baik ilmu pengetahuan, barang pemewah tersier atau bisa jadi soal
pemenuhan rasa yang menyangkut hati. Segala hal butuh diperjuangkan, bukan?
Kata “diperjuangkan” ini loh. Super sekaliii kandungan
makna nya. Jauh dan Dalam. Susah sekali rasa nya untuk dijabarkan, karena “perjuangan”
itu tidak boleh dibakukan atau disamaratakan, berbeda, setiap orang berhak
mentafsirkan perjuangan dan makna nya.
Saya mencoba membayangkan, kondisi nya seperti ini. Ada seorang
pemuda, sebenarnya sudah bisa disebut laki-laki dewasa (baca: pemula),
passionate, kira-kira. Dia punya mimpi, merenungkan apa itu mimpi, kemudian berusaha
untuk memahami apa itu hasrat, dan ternyata bisa paham dengan sangat baik pula apa
itu perjuangan. Sedari kecil dia sudah diajari bekerja untuk mendapatkan
sesuatu oleh nenek, ketika ditinggal merantau bapak ibuk nya. Setiap pagi-pagi
sekali, jam 4 tepat, harus bangun dan membantu si nenek “angkut-angkut”
(memindahkan barang dagangan dari dapur ke tepi jalan raya di ujung desa) sayur
tumpang, bubur, gorengan dan pelengkap sarapan khas pedesaan era 2000an. Mimpi,
hasrat, perjuangan. Rasanya masa depan cerah segera di genggaman.
Tiba-tiba, dia mendengar tentang law of attraction, hukum
tarik menarik, seperti itu. Dimana, sebelum mendapatkan sesuatu yang kita inginkan atau kehendaki, ternyata
semua hal harus disertai keyakinan terlebih dahulu. Yakin. Yakin kalau si A itu
nanti, pasti akan saya dapatkan. “Saya yakin”, teriak lantangnya dalam hati. Begitulah
pemuda pemula itu pelan-pelan bertumbuh dan berkembang di tengah-tengah
keterbatasan.
Ah ... seperti apa rasanya. Boleh aku jadi peniru mu,
tuan muda pemula ?
Senin, 07 November 2016
Percabangan Dua Pilihan
Oleh : Irkham Zamzuri
Soe Hok Gie di usia singkatnya, "Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan". Tidak ada pahlawan di dua tempat berbeda, bersebelahan, berdampingan, bertepatan pada waktunya. Tidak, tidak ada!!! Ada sih, tapi pecundang namanya.
Harus menerima keterbatasan kalau manusia memang terbatas, bukan maksud membatasi, bukan, tapi semua hal memang berbatas. Itu kenapa masih ada manusia diantara manusia lainnya, supaya apa, biar tanggung jawab bisa dikerjakan bersama.
Satu di bidang ini, dua di bidang itu, tiga disini, empat disitu, merata, sesuai aku dan kamu bisa apa, bukan mau ini itu disini disitu diwaktu yang sama.
Sia-sia rasanya berbicara atau mengambil tugas dalam porsi besar kalau yang normal saja belum tuntas. Bukankah yang besar itu dimulai dari kecil? Nah ... kalau kecil-kecilnya saja belum jalan? Lantas apa mau dikata.
Semua hal terjadi karena alasan, dan pasti ada pilihan dan sudah pasti pula pilihan itu bercabang, pro kontra jelas ada.
Tidak ada yang namanya tidak ada pilihan, cuma sekarang mau memilih apa tidak, atau ikut cari aman saja, atau takut dikucilkan kalau ngambil pilihan, atau tidak milihpun sebenarnya nyaman-nyaman saja. Alasan dan pembenar semata.
Tapi toh ... semua kembali pada pilihan. Pahlawan dan pecundang pun sejatinya tidak berseberangan, mereka cuma saling menguatkan pengikutnya.
Berani menyatakan dan tegas pada pilihan sudah cukup memerdekakan diri kita dari mental perbudakan, slavery katanya,
Soe Hok Gie di usia singkatnya, "Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan". Tidak ada pahlawan di dua tempat berbeda, bersebelahan, berdampingan, bertepatan pada waktunya. Tidak, tidak ada!!! Ada sih, tapi pecundang namanya.
Harus menerima keterbatasan kalau manusia memang terbatas, bukan maksud membatasi, bukan, tapi semua hal memang berbatas. Itu kenapa masih ada manusia diantara manusia lainnya, supaya apa, biar tanggung jawab bisa dikerjakan bersama.
Satu di bidang ini, dua di bidang itu, tiga disini, empat disitu, merata, sesuai aku dan kamu bisa apa, bukan mau ini itu disini disitu diwaktu yang sama.
Sia-sia rasanya berbicara atau mengambil tugas dalam porsi besar kalau yang normal saja belum tuntas. Bukankah yang besar itu dimulai dari kecil? Nah ... kalau kecil-kecilnya saja belum jalan? Lantas apa mau dikata.
Semua hal terjadi karena alasan, dan pasti ada pilihan dan sudah pasti pula pilihan itu bercabang, pro kontra jelas ada.
Tidak ada yang namanya tidak ada pilihan, cuma sekarang mau memilih apa tidak, atau ikut cari aman saja, atau takut dikucilkan kalau ngambil pilihan, atau tidak milihpun sebenarnya nyaman-nyaman saja. Alasan dan pembenar semata.
Tapi toh ... semua kembali pada pilihan. Pahlawan dan pecundang pun sejatinya tidak berseberangan, mereka cuma saling menguatkan pengikutnya.
Berani menyatakan dan tegas pada pilihan sudah cukup memerdekakan diri kita dari mental perbudakan, slavery katanya,
Langganan:
Postingan (Atom)